Tampilkan postingan dengan label kritikvskripik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kritikvskripik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Saat Kita Harus Menikmati KriTiK Seperti Nikmatnya KriPiK



Hari ini seperti biasa ku awali pagiku dengan mendengarkan Radio seusai ibadah subuh. Dan tentu saja pilihanku adalah Radio MQ FM. Suara Ustadz yang sudah tidak asing lagi namanya bagi kita kembali mengudara di Ruang dengarku. Ialah beliau Ust. Abdullah Gymnastiar (@aagym).


Pagi tadi kebetulan membahas soal Kritik mengkritik. Pelajaran dan peringatan yang sungguh bermanfaat bagiku hari ini.

KriTiK memang tak nikmat seperti KriPiK, jika kita mau jujur. Namun, jika kita mampu menyikapi dengan benar, maka KriTiK itu akan terasa semakin nikmat, se-nikmat ketika kita makan KriPiK, walaupun rasanya pedas namun tetap nikmat.

Janganlah berbangga-bangga dengan pujian, karena pujian bisa melenakan kita. Bukankah lebih baik kritikan yang membangun daripada sebuah pujian yang bisa membuat kita lalai. Bila ada orang yang memuji biasa sajalah menyikapinya, tidak usah “ke-ge-er-an”. Nah, kalau ada yang mengkritik kita, ya tidak usah mencari-cari alasan, mencari perlindungan, bahkan malah membalas dengan cacian. Terimalah dengan lapang, karena kritikan itu benar-benar akan membangun kita. Ucapkan terimakasih kepada setiap orang yang mengkritik kita jika dia mengkritik berdasarkan apa yang ada pada diri kita.

Saya sering sekali menghadapi kritikan untuk diri saya, dan tidak jarang saya mencari-cari alasan dan membela diri, atau mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Itu sering, namun setidaknya saya memikirkan kembali apa yang ia katakan memang benar, dan saya musti menyikapi kritikan itu untuk menjadikannya lebih baik kedepannya. Harus ada respon untuk kritikan itu.

Pengalaman, saya pernah dikritik oleh atasan atas perbuatan saya, memang saat itu saya ditanyai oleh atasan soal sebuah kesalahan kerjaan yang dilakukan oleh salah satu dari kami para bawahan. Saat itu memang bukan saya yang melakukannya, jadi ketika saya ditanyai saya menjawab “bukan saya pak, mungkin mereka” jawabku. Langsung atasanku menyahut, “ kamu itu kok menyalahkan yang lain”. Kemudian saya terdiam sejenak, kemudian berucap lagi, “ Maaf pak, tapi memang bukan saya”. Kemudian atasan bilang, “ ya sudahlah”. Sayapun mulai berpikir sejenak, memikirkan kata-kata yang dilontarkan atasan. Kata-kata itu memang menyakitkan, karena saya benar-benar tidak melakukannya. Namun akhirnya saya jadikan itu sebagai bahan  introspeksi. Memang benar, saya malah menjawabnya dengan menuduh dan menyalahkan yang lain walau saya bukan pelakunya. Akupun terus berusaha memperbaiki sikap mengingat "menuduh itu lebih kejam daripada tidak menuduh" :D, semua harus dipertanggungjawabkan sama Allah nanti. Suatu saat jika terjadi hal seperti itu, saya akan menjawabnya “ maaf pak, saya tidak tahu”, begitu saja. Wal hasil, akhirnya atasan lebih mempercayai apa yang saya ucapkan sekarang, dan dia jadi menyukai kredibilitas saya sebagai bawahannya. KriTiK benar-benar akan menimbulkan sesuatu yang lebih baik.

"Nikmati KriTiK seperti menikmati KriPiK, walau pedas tetap enak. KriTiK sangat bermanfaat bagai cermin, maka nikmatilah sbg karunia Allah. Bila kita sibuk membentengi diri dengan berbgai alasan bila diberi masukan/kritik, niscaya orangpun akan enggan, berarti kita kehilangn cermin.  Cacian yang membuat hati terbuka, sadar dan memperbaiki diri, jauh lebih baik daripada pujian yg membuat buta hati dan lupa diri."

“Di-KriTiK ya postingan-nya, nanti tak kasih KriPiK deh, pesen diwarung terdekat!.