Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2011

SMS IBU SEMALAM ( sekali-kali nangis di-MP boleh dong )


Semalam saat aku hendak memanjakan raga diatas matras setelah seharian beraktivitas tiba-tiba HPku berdering. Ku liat kotak masuk ternyata ada nama ibu disana. Dengan bahasa halusnya(bahasa jawa), begini isinya :

" Nak, sedang apa? Sudah makan bukan? Ibu dan adik sedang istirahat sambil liat TV diruang tamu, oya do'akan adikmu biar besuk masuk sekolah pertamanya diSMP lancar. Kalau kamu capek, cepat istirahat dan bobo'!, sudah ya nak, Ibu lelah."

Aku pun langsung tersentak dan terharu membacanya. Betapa tidak, ibu yang paginya sudah aku telpon, mendengar suaraku, dan sudah bercanda denganku, ternyata masih saja ingin menanyakan kabar sang anak yang jaraknya jauh dari pandangannya. Ibu selalu ingin disapa oleh anak-anaknya yang jauh disana, ibu...ibu kau merindukan anak-anakmu, tapi anak-anakmu sebenarnya sangat merindukanmu.

Dari sms itu, kata-kata "lelah" diakhir pesan singkat itulah yang membuatku tak kuasa menahan air mata. Lagi-lagi betapa tidak, dulu saat sebelum aku merantau disini, ia terkadang mengeluarkan kata-kata itu "nak, ibu lelah", saat itu kusambut kelelahan ibuku dengan senyumku dan sambil kumanja-manja dan kupijit kaki-nya. Sedangkan tadi malam, aku tak bisa mengulanginya. Aku tak bisa menyambut kelelahan ibuku dengan senyumku dan juga pijitan tanganku. Aku tak bisa mengobati lelah yang didapat ibu setelah seharian mencari rizki tambahan dihari itu. Aku termenung sambil mengelap air mata banyak yang membuat daun mataku jadi susah ku gerakkan, ( Cengeng, biarlah ).

Istighfar banyak aku dimalam itu,
Ya Allah jagalah ibuku sebaik-baiknya,
Jika ia lelah kuatkan hatinya dengan sabar,
Usaplah air matanya dan tegakkan hatinya dengan sejuta harapan,
Jika ia terluka hilangkanlah luka itu dengan senyum diwajahnya,
Obatilah goresan itu dengan keikhlasan dihatinya,
Dan jadikan keteguhan dihatinya dalam menjalani hari-harinya,
Semoga Engkau menyayangi Ibuku Ya Allah.....


Selasa, 07 Juni 2011

“Pinta Ibuku”


Nak, bila kau besar nanti ibu ingin melihatmu bahagia dan senang
Nak, bila kau besar nanti ibu ingin melihatmu menjadi sebenar-benar orang
Nak, bila kau besar nanti ibu ingin melihatmu tersenyum girang
Nak, bila kau besar nanti ibu ingin melihatmu membahagiakan orang-orang

Nak, bila kau sakit ingat ibu mu yang selalu berdoa untuk kesembuhanmu
Nak, bila kau sedih ingat ibu mu selalu bersujud memohon agar ada yang menghiburmu
Nak, bila kau sulit ingat ibu mu selalu memohon kesulitan itu menjauh darimu
Nak, bila kau rindu ingat ibu mu selalu ada di sampingmu setiap waktu

Nak, bila kau bahagia nanti ingatlah ibu yang selalu mendoakan kebahagiaanmu
Nak, bila kau bahagia nanti ingatlah ibu yang pernah menahan lapar karena anak-anakku
Nak, bila kau bahagia nanti ingatlah ibu yang pernah menahan haus di siang itu
Nak, bila kau bahagia nanti ingatlah ibu yang pernah kehujanan demi mencari rejeki di hari itu
Nak, bila kau bahagia nanti ingatlah ibu yang pernah kepanasan hingga terasa seakan mambakar kerudung ibumu
Nak, bila kau bahagia nanti ingatlah ibu yang pernah berjalan berpuluh kilo untuk mencarikan sesuap nasi untukmu dan adikmu

Yogyakarta, 08 juni 2011

Dalam sholatku ku selalu teringat perjuangan berat yang dialami ibuku dalam membesarkanku hingga sebesar ini, tak kuasa menetas juga air dari mata yang tak bisa ku hentikan. Ibuku dikampung merindukanku, dan aku sangat merindukannya. Ibu anakmu sebentar lagi akan pulang kerumah.

Ibu, ia kebingungan jika tak mendengar salam sapa dari anak-anaknya. Ia sangat sedih jika tak mendengar suara anak-anaknya walau hanya lewat telepon saja. Tiap aku harus menyapa dirinya walau hanya lewat sebuah sms ataupun telepon.

Semua pintanya akan selalu kuingat dan kukenang sepanjang hidupku. Satu hal yang ku ingat darinya adalah sebuah permintaan yang sangat sepele. Bahwa ia sangat suka coklat, dan ia ingin aku membelikannya suatu saat nanti  dengan uang hasil kerjaku sendiri. Kini aku bawakan ia coklat yang ia suka saat aku pulang kerumah, dia senang walau aku hanya memberi  sebuah coklat. Dia tersenyum senang. Ibuku ku berjanji membahagiakanmu sebisaku semampuku. Semoga Rabb-ku memberikan kemudahan bagiku. Aamiin.


Selasa, 24 Mei 2011

"IBU SEHARUSNYA ENGKAU SAKIT"

Kali ini aku akan menulis sesuatu tentang dirimu
Aku ingin merenungi keberadaanmu disisiku setiap waktu
Entah kapan Aku akan berpisah denganmu hanya Dia yang tahu
Ku akan sedikit bercerita tentang dirimu untuk kawan tercintaku

Ibu Seharusnya Engkau Sakit
Aku telah menyusahkanmu semenjak aku lahir sampai dewasa ini
Aku sibuk mengucapkan terimakasih kepada orang lain didunia ini
Sedangkan Aku tak banyak mengucap terimakasih padamu selama ini
Aku sibuk mencari perhatian yang lain padahal mereka hanya sedikit memberi
Dan aku tak sibuk mencari perhatian darimu padahal berjuta-juta dirimu memberi

Ibu Seharusnya Engkau Sakit
Engkau korbankan jiwa ragamu untuk membesarkan anakmu
Engkau rela memakan kepala dan duri ikan sedang dagingnya kau berikan untukku
Engkau tak rela uangmu kau makan sendiri tanpa anakmu walau hanya seribu
Engkau tak rela memlihatku kehausan hingga air yang tersisa segelas itu kau berikan padaku
Engkau tak mau dibilang sakit padahal badanmu terbaring lesu
Engkau jelas sakit keras tapi kau bilang kau tak merasa “kesakitan” padaku
Engkau berbohong padaku hanya karena kau tak ingin aku khawatir padamu

Ibu Seharusnya Engkau Sakit
Apakah aku sudah membalas semua itu selama ini
Apakah belas kasih sayangmu sudah ku kembalikan padamu sampai saat ini
Ku rasa aku tak akan mampu membalas itu nanti
Tapi sejatinya aku selalu berdoa untukmu sampai ajal itu menghampiri
Yogyakarta 2011, by Cawah



Ibu, banyak kisah-kisah tentang ibu
Semua orang pasti mempunyai kisah tentang ibu mereka
Sekian tahun aku bersama ibuku, mengajari tentang bagaimana aku harus menjalani hidupku
Aku hidup bersamamu penuh damai dan kasih sayang tulus
Aku baru bisa menyadari bahwa engkau telah memberi semuanya sebanyak itu

Pengalamanku yang telah lalu setidaknya menjadi pelajaran besar bagiku
Aku pernah merasa lapar sedang tak ada daya dan makanan didepanku
Tapi aku masih mempunyai beberapa receh yang bisa aku belikan makanan sedikit dengan itu
Namun setelah aku berbicara dan bercanda dengan penjual makanan yang sering aku beli makanannya
Aku diberi makan olehnya tanpa aku harus membayarnya sedikitpun
Begitu senangnya aku saat itu
Lantas aku langsung mengucapkan berjuta terimakasih padanya
Mungkin berlebihan juga aku mengucap terimakasih padanya
Hingga ia menggerutu, jangan berterimakasih padaku, berterimakasihlah pada allah, ayah dan ibumu
Kemudian aku menyahut hai pedagang yang memberi makanan ini adalah kamu bukan ayah dan ibuku
Pedagang itu bertanya kembali, benarkah begitu? lantas siapa yang memberi makan kepadamu sampai sebesar ini ?
Aku pun tercengang dan tersadar, sampai seperti itukah aku berterima kasih kepada pedagang yang hanya memberiku makan satu kali itu
Sedangkan aku tak banyak berterimakasih pada ibuku sendiri yang telah memasakkan makanan kesukaanku setiap harinya berkali-kali
KU tersadar oleh seorang pedagang yang belum tau jelas namanya ituKeesokan harinya aku langsung menelpon ia sambil ingin menahan air yang keluar dari mata dan tak mau berhenti
Aku ucapkan kata “terimakasih” padanya tanpa menjelaskan terimakasih untuk apa
Ia hanya bingung dan hanya menjawab “ya”
Ucapkanlah terimakasih pada ibu kita yang telah memberikan banyak, sebelum ia tiada, dan balaslah semua itu hanya dengan doa saat ia telah tiada.