Ya, kejadian ini terjadi di awal-awal aku menginjakkan kaki di Kota ini, karena aku orang ‘ndeso’ yang sama sekali tidak pernah kepikiran berada di Kota ini, tentu saja Aku ‘bingung-bingung bungah’ pertama kali ke sini. Kedatanganku kesini tentu saja merantau, mencari rizki itulah tujuanku.
Namanya orang asing di negeri orang tentu saja tidak luput dari istilah “keblasuk” alias tersesat :D. Pernah tersesat? (makanya jangan lupa bawa kompas kalo kemana kemana kemana :p). Haduh aku sendiri malu mau menceritakan saat aku tersesat, agaknya jangan meremehkan pepatah ini, “ Malu bertanya, Njungkel neng Ndalan” hihiihi. Jadi, ceritanya aku hampir tersesat sampai ke Jalan Magelang.
Aku yang saat itu sendirian mencari pekerjaan ke sana kemari, hendak ingin pulang ke kost-kostan sepupu yang kuliah disini. Sewaktu pulang dari test masuk kerja, aku naik bus kota jurusan Tempel- Terminal Giwangan Jogja, tujuanku ke terminal Giwangan, tanpa bertanya ke Kenek Busnya aku main nyelonong masuk aja yang ternyata bus itu menuju ke Tempel, bukan ke terminal Giwangan. Dan mirisnya lagi bus itu adalah yang terakhir, tak ada lagi bus yang menuju terminal Giwangan. Terpaksa aku turun di daerah Jalan Magelang, Tempel, Sleman, hampir berdekatan dengan Magelang.
Hari sudah semakin sore, Adzan ashar berkumandang, aku sesegera mungkin mampir dimasjid terdekat. Pikirku aku akan masih bisa pulang ke kostan sepupu dengan menelpon sepupu untuk menjemputku yang tersesat di Jalan Magelang ini. Tapi, kejadian menyedihkan dan membuat aku “galau” adalah ketika aku mendapati dompet dan Hapeku sudah tidak ada dalam tas. Ya, uang dan hapeku dicolong orang, tapi tasku tidak ikut dicolong, (malingnya pinter dan teliti banget, tau aja kalo tasku butut dan lusuh T_T, Cuma isinya aja yang diambil). Ceritanya aku jadi makmum masbuk, dan aku menaruh tasku disebelah belakang agak jauh dari tempatku shalat, nah mungkin saja si maling mengamatiku sewaktu aku memasukkan hapeku ke dalam tas.
Lenyap sudah harapanku untuk bisa bertahan hidup *halah lebay ( ehhh buset dah aku galau banget saat itu, ketar-ketir ). Maksudnya bagaimana caranya aku bisa menghubungi sepupuku kalau hapeku dicolong, bagaimana aku bisa bayar angkutan alternatif lainnya sedangkan uang sedompetku digondol maling di Masjid *hiks. Aku benar-benar bingung, dan hampir saja meneteskan air mata. Tapi saat itu berpikir bahwa aku pasti bisa pulang karena Allah melihatku dan pasti menolongku. Dengan keyakinan itu aku mencoba melangkahkan kakiku menuju tempat aku akan pulang, ke kost sepupu. Berjalan kaki, YA, itulah yang terpikirkan di Otakku. Padahal aku juga belum yakin padahal jarak tempat kost dan tempat aku tersesat luar biasa jauh.
Dengan niat dan prasangka baik akan pertolongan Allah aku terus melangkahkan kaki-ku, aku sudah berjalan kira-kira 8km. Coba bayangkan? Pernahkah anda berjalan sejauh itu. Kalau aku ingat sering kali aku nangis dengan perjuanganku saat itu.
Setelah kira-kira berjalan 8km, aku merasa lelah dan aku berpikir untuk berhenti sejenak, aku kehausan, aku ingin membeli minum, tapi teringat akan dompetku yang digondol maling (semoga allah menunjukkan jalan yang lurus pada maling itu), aku pun hanya bisa bermurung muka, lesu, sedih. Tapi aku mencoba mencari-cari rupiah ditas ku yang butut itu, ternyata aku menemukan selembar uang seribuan disana, alhamdulillah, aku bisa membeli minum dengan uang itu. Sesegera mungkin ku menuju warung pinggir jalan terdekat untuk membeli minum. Tentu saja uang segitu hanya dapat membeli Ice Tea ( Es teh kalo bahasa ndesonya). Penjual warungnya seorang nenek. Dan apa yang terjadi saudara-saudara?, setelah aku memesan es teh ke nenek ini, ku pikir harganya memang seribu, karena ditempat lain memang Cuma seribu. Tapi saat ku tanyakan harganya,”pinten mbah?”, nenek bilang “Rong ewu mas”. *Glek, es teh yang sudah habis ku minum serasa ingin tak muntahkan lagi. Ku pikir harganya seribu ternyata di tempat nenek 2 ribu.( Huaaaa, sedihnya bukan main. Bikin nangis kalau inget ini). Tapi nenek ini tidak sepenuhnya yang membuat langkahku pulang semakin berat. Tapi nenek ini berbaik hati, setelah ku jelaskan bahwa aku hanya punya uang seribu. Aku boleh membayar dengan uang seribu saja. Hiks, aku iba. Dan karena nenek inilah aku yang tersesat bisa terselamatkan. Kebetulan nenek punya handpone, dan alhamdulillah aku dipinjami, dan aku bisa SMS sepupu untuk menjemputku. Ajaibnya lagi, aku ingat 12 digit nomor hape sepupu. Subhanallah Allah benar-benar maha besar, maha penolong.
Aku bersyukur bisa pulang dan alhamdulillah keesokan harinya diterima kerja. Terimakasih nenek, Alhamdulillah ya allah.
( Pengorbanan itu takkan sia-sia, khuznudzon pada Rabb akan hari esok lebih baik)

